Beberapa hari ini selain ada kesibukan lebih,tanpa sadar ternyata aku sedang terbius oleh virus "menonton".Kok gitu?,memang apa si virus "menonton" itu?.Hehe....ya pokoknya menonton (gaje ih).
Jadi sudah lama aku tidak menonton film atau drama dll.Baik melalui televisi,video,atau online.Nah terakhir-terakhir ini,aku agak jenuh dengan aktivitas harianku.Aku coba deh cari-cari film di internet.Tadinya sih hanya mau ceck drama korea terbaru apa saja ,eh tau-taunya malah asyik menonton film-film korea via online.Setiap ketemu leptop bukannya menulis malah hanya menonton film.Hedewh...terbius rupanya.
Setelah tersadar,betapa "all" kegiatan menonton itu amatlah merugikan.Sangat merugikan jika niatnya menonton "hanya ingin" menonton saja.Tanpa adanya motif-motif tertentu.Ha?motif bagaimana?.
Tentu saja semua yang kita lakukan itu berdasarkan niat bukan?.Jika niat awalnya saja sudah "serampangan" tak tentu tujuannya,yang akan didapat tentu setimpal,bahkan bisa lebih buruk.
Betapa virus "menonton" ini amat melemahkan daya fikir dan imajinasi menurutku.Melalui mata,kita dibuai untuk menikmati keindahan yang tersuguh didalam tayangan tersebut.Mungkin memang sedikit "mudeng" dengan jalan ceritanya.Hanya itu saja yang didapat.Karna saat menonton itulah,jarang kan dari kita untuk bisa berfikir,bagaimana cara menulis skenarionya,menyusun sedemikiannya,memperoleh setting latarnya sesuai naskah dsb.Intinya saat menonton,kebanyakan dari kita tidak terfikirkan akan kerumitan dibelakang film tersebut.Taunya sudah jadi,tinggal menikmati.
Jika dikaitkan dengan keadaan tayangan televisi di negeri kita saat ini,apakah semua itu bisa dipertanggung jawabkan secara kacamata akedemis?.Bagaimana dengan kesehatan mental para penontonnya?.Yang kebanyakan adalah masyarakat awam?.Stiap hari disuguhi tontonan tentang "adu domba","bergosib" dan berita-berita yang sudah terskenariokan.Oooo tidakkk.
Uff....bukan maksud mengorek-ngorek dan menuntut yang diatas sana si,tapi ini untuk jaga-jaga saja.Bangkit dan berudah yuk,terutama dimulai dari diri sendiri,keluarga,anak-anak kita.Marikita mulai saring-saring apa saja yang selayaknya dikonsumsi,mana yang sekiranya layak untuk dijadikan tontonan.Agar generasi kita tidak terprovokasi terus-menerus oleh tontonan yang melenakan.Tontonan-tontonan yang sejatinya "membutakan" nurani dan memperdaya.
Pastinya setiap individu memiliki cara dan idealisme sendiri-sendiri dalam menanggapi hal-hal seperti ini.Jadi,silahkan dan mari kita gerakkan rumah kita masing-masing agar tidak terlenakan oleh acara dari box/flat berukuran beberapa inc itu.Masa mau sih terus-terusan diperdaya sama kotak magic itu?.Apa perlu dibakar saja?.Isss aku mah belum mau, :) masih dalam tahab membatasi dulu deh ya. :D
Jadi sudah lama aku tidak menonton film atau drama dll.Baik melalui televisi,video,atau online.Nah terakhir-terakhir ini,aku agak jenuh dengan aktivitas harianku.Aku coba deh cari-cari film di internet.Tadinya sih hanya mau ceck drama korea terbaru apa saja ,eh tau-taunya malah asyik menonton film-film korea via online.Setiap ketemu leptop bukannya menulis malah hanya menonton film.Hedewh...terbius rupanya.
Setelah tersadar,betapa "all" kegiatan menonton itu amatlah merugikan.Sangat merugikan jika niatnya menonton "hanya ingin" menonton saja.Tanpa adanya motif-motif tertentu.Ha?motif bagaimana?.
Tentu saja semua yang kita lakukan itu berdasarkan niat bukan?.Jika niat awalnya saja sudah "serampangan" tak tentu tujuannya,yang akan didapat tentu setimpal,bahkan bisa lebih buruk.
Betapa virus "menonton" ini amat melemahkan daya fikir dan imajinasi menurutku.Melalui mata,kita dibuai untuk menikmati keindahan yang tersuguh didalam tayangan tersebut.Mungkin memang sedikit "mudeng" dengan jalan ceritanya.Hanya itu saja yang didapat.Karna saat menonton itulah,jarang kan dari kita untuk bisa berfikir,bagaimana cara menulis skenarionya,menyusun sedemikiannya,memperoleh setting latarnya sesuai naskah dsb.Intinya saat menonton,kebanyakan dari kita tidak terfikirkan akan kerumitan dibelakang film tersebut.Taunya sudah jadi,tinggal menikmati.
Jika dikaitkan dengan keadaan tayangan televisi di negeri kita saat ini,apakah semua itu bisa dipertanggung jawabkan secara kacamata akedemis?.Bagaimana dengan kesehatan mental para penontonnya?.Yang kebanyakan adalah masyarakat awam?.Stiap hari disuguhi tontonan tentang "adu domba","bergosib" dan berita-berita yang sudah terskenariokan.Oooo tidakkk.
Uff....bukan maksud mengorek-ngorek dan menuntut yang diatas sana si,tapi ini untuk jaga-jaga saja.Bangkit dan berudah yuk,terutama dimulai dari diri sendiri,keluarga,anak-anak kita.Marikita mulai saring-saring apa saja yang selayaknya dikonsumsi,mana yang sekiranya layak untuk dijadikan tontonan.Agar generasi kita tidak terprovokasi terus-menerus oleh tontonan yang melenakan.Tontonan-tontonan yang sejatinya "membutakan" nurani dan memperdaya.
Pastinya setiap individu memiliki cara dan idealisme sendiri-sendiri dalam menanggapi hal-hal seperti ini.Jadi,silahkan dan mari kita gerakkan rumah kita masing-masing agar tidak terlenakan oleh acara dari box/flat berukuran beberapa inc itu.Masa mau sih terus-terusan diperdaya sama kotak magic itu?.Apa perlu dibakar saja?.Isss aku mah belum mau, :) masih dalam tahab membatasi dulu deh ya. :D
No comments:
Post a Comment