Friday, 13 September 2013

Budaya Menyetarakan Kemampuan

Sudah sesiang ini baru sempat nengokin keyboard.Memang dari tadi belum ada niatan mau nulis apa.Belum ada ide.
Biasanya pagi-pagi ,aku jarang sekali ikut menonton tv dengan suami.Tetapi pagi tadi aku mencoba ikut menonton.Hmmm,rupanya masih sama (pikirku).Masih sama,acara televisi khas dipagi hari.
 Mayoritas berita plus gosib dan acara film kartun anak-anak.


Buatku (terutama sejak menikah),entah mengapa acara televisi menjadi tidak menarik.Bahkan liputan tentang berpetualang atau jalan-jalan pun sudah tak begitu memikat lagi.Mungkin lebih baik online atau menulis dari pada menonton televisi.


Nah ini sedikit kutipan tentang acara televisi yang sempat aku lihat tadi pagi.Tentang berita anak seorang penyanyi rock-pop negeri ini,Ahmad Dani. "Lagi-lagi dia ", kataku.Dia nggak ada masalah aja klu muncul ditelevisi bisa "nggak kelar-kelar'.Apalagi ini,malahan anaknya terlibat kasus kecelakaan mobil yang melukai 9 orang dan menewaskan 6 orang pula.Masih dibawah umur dan diduga mengendarai modil tersebut dengan kecepatan diatas 100km/jam.

Bayangkan saja,anak dibawah umur sudah berani bengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.Kejadian pada waktu dini hari pula.Miris ya?,anak-anak ibukota  (pada khususnya).Dijam-jam seperti itu masih berada diluar rumah tanpa dampingan orang tua. Klu sudah begitu siapa yang patut dipersalahkan?.

Tentu saja,hal seperti itu menjadi cambuk bagi para orang tua yang memiliki anak seusia "nya" agar lebih waspada terhadap ancaman-ancaman gaya hidup dikota yang semakin tidak bernorma.Tidak mengenal waktu dan tidak mengenal usia.

Tidak keluar dari masalah "itu",apa yang akan diperbuat oleh para orang tua untuk lebih waspada dengan perubahan zaman ini?.Masihkan akan membiarkan anak-anak kita terlalu sering mengikuti perubahan zaman?.Mengikuti trend?.

Salah satu jalan keluarnya adalah meningkatkan pendidikan moral dan agamanya.Tidak melulu mengandalkan pendidikan dari guru-guru diluar rumah.Tetapi sebagai orang tua,sudahlah tentu, akan menjadi tolok ukur bagaimana si anak akan bersikap.Madrasah terbaik anak adalah rumahnya,ibunya,ayahnya dan keluarganya.

Semua perubahan dimulai dari diri kita masing-masing.Yuk mari .....

No comments:

Post a Comment